Selasa, 04 Januari 2011

Menggagahi Vito pelajar lelaki sekolah kejuruan

Menurut aturan situs MOTNES, terlarang mencerita-kan tokoh yang usianya di bawah delapan belas tahun.Yah!Aku selalu berusaha taat dengan aturan itu.Tapi masalahnya adalah aku tidak selalu tahu umur lak-laki atau pemuda yang aku cabuli.Bahkan aku juga merasa tidak pantas jika aku harus tanya dulu umur pemuda yang akan aku cabuli. Seandainya aku tanyakan pun, dari mana aku tahu bahwa umur yang
dikatakannya itu adalah benar,tidak bohong? Ambil saja contoh percabulanku dengan Vito. Aku jumpa Vito di Bandara Sukarno-Hatta Cengkareng ketika akan terbang dari Jakarta ke Denpasar. Waktu itu, di ruang tunggu aku duduk di samping Vito.Tertarik oleh ketampanan wajahnya dan juga oleh keatletisan tubuhnya - aku nekat coba-coba menyapa. Aku memang selalu berhati-hati sekali kalau mau menyapa orang yang tidak aku kenal.

Ada yang mengatakan bahwa orang laki-laki yang menyapa duluan - khususnya menyapa anak muda - biasanya lelaki homosex. Entah dari mana orang mendapat teori itu.Itulah sebabnya kalau aku mau menyapa cowok, apalagi cowok remaja, aku selalu berpikir dulu seratus kali atau seribu kali.Dari pada aku "dituduh" sebagai lelaki homosex.

Tetapi melihat ketampanan dan keindahan tubuhnya aku tidak dapat menghindari [resist] keinginanku untuk menyapa Vito[tentu saja waktu itu aku belum tahu nama Vito].

Akhirnya aku nekat menyapa :

"Mau berangkat ke Denpasar, Mas?"

"Iya. Pak", jawabnya.

"Ya. Saya juga", sambungku.

Demikianlah aku memulai pembicaraan kami. Lalu kami pun berkenalan dan sejak itu aku tahu bahwa pemuda tampan itu bernama Vito. Vito mengenakan celana putih dengan T-Shirt garis-garis mendatar [horizontal] hijau tua dan biru muda, sepatunya berwarna hitam. Vito tampak sportif dan seperti anak orang kaya.

Aku juga menyebut namaku Juan [dari Juan Carlos]. Seharusnya namaku dibaca "Huan".Tapi supaya tidak terdengar aneh di telinga Vito, maka aku sebut namaku "Yuan".

Kamipun ngobrol panjang lebar.Ternyata Vito masih duduk di "high-school". Aku tidak paham sistem pendidikan di Indonesia, karena aku memang bukan orang Indonesia.Oleh sebab itu kalau aku menulis di MOTNES aku menyebutnya:high-school, secondary high-school, dan primary school.Belakangan Vito juga mengatakan bahwa dia bersekolah di Sekolah Menengah Kejuruan [SMK},Jurusan Tehnik.Kata Vito, waktu dia masuk SMK, dia jadi tertawaan teman-teman sekolahnya. Sebab, semua teman sekolahnya masuk SMU [Sekolah Menengah Umum] yang mungkin setara dengan high-school di Amerika Serikat.

Jadi,dalam bahasa Indonesia [yang memang baru aku pelajari setelah aku kerja di Timor Leste], Vito disebut "pelajar" atau "siswa". Mungkin dalam bahasa Inggris Vito disebut sebagai "student of a vocational school?" atau "student of a technical high-school?".

Kata Vito,dia masuk SMK karena dia ingin belajar sesuatu yang dia suka.Vito memang hobby otomotif. Oleh karena itu di SMK Vito mengambil jurusan otomotif. Dari pakaian dan barang-barang pribadi yang dipakainya aku dapat memperkirakan bahwa Vito anak orang kaya.Vito ke Denpasar untuk ber-libur saja dan dia memang berangkat sendirian.

Aku kagum sekali pada Vito dan makin lama makin tertarik [naksir] pada pemuda remaja itu.Apalagi aku mencium bau harum parfumnya yang jantan dan segar. Aku paling suka pada cowok yang tampan, atletis, dan harum. Obrolan kami makin jauh dan akhirnya aku jadi tahu bahwa Vito akan menginap di salah satu hotel bintang lima di Nusa Dua.Kebetulan hotel itu ada lah hotel langgananku dan juga hotel favoritku. Agaknya Vito memesan hotel melalui internet atau telpon, langsung dari Jakarta.

Aku membatalkan rencanaku untuk main cabul dengan Alfredo, seorang staf dari cabang kantorku di Denpasar.Sebagai gantinya aku akan meng-explore peluang main gila dengan cowok yang bernama Vito itu.Kalau ternyata Vito tidak mau dicabuli,paling tidak aku bisa berdua-duaan dengan Vito.Itu sudah membuat senang dan bahagia hatiku.

Pendek cerita,kami janjian untuk tinggal di hotel yang sama.Vito akan tinggal seminggu di Nusa Dua. Sebagai Country Director di kantorku, tentu saja aku bisa mencari-cari alasan bahwa aku ada bisnis atau urusan di Denpasar.Apalagi ada kantor cabang kami di Denpasar.Aku segera menelpon Alfredo di kantor cabang kami di Denpasar bahwa aku tak usah dijemput di airport. Aku juga telpon kantorku di Dili, bahwa aku baru kembali ke Dili seminggu kemudian.

MENGINAP DI NUSA DUA

Demikianlah,setibanya kami di Bandara Ngurah Rai Denpasar aku naik bis ke hotel bersama Vito. Kami tinggal di dua kamar yang berbeda di hotel tapi saling bersebelahan.

Setelah check in dan meletakkan barang di kamar, Vito langsung saja mengajak aku berenang dikolam renang hotel.Aku menurut saja dan kami berjalan bareng kekolam renang hotel.Kami berdua sama-sama mengenakan jas-kamar [kamer jas].Di kolam renang kami membuka jas-kamar kami lalu kami masuk ke air. Vito mengenakan pakaian renang model bikini yang cukup minim, tubuhnya memang indah.

Otot dadanya amat menonjol ke depan dan sepasang puting susu yang ketat,tegang,melenting tertancap di tengah-tengah "bukit" dadanya itu! Perutnya rata dan dihiasi otot membentuk six-packs, lengan dan tungkainya amat atletis.Kulit tubuhnya putih bersih.Waktu tanpa sengaja Vito mengangkat tangan -nya keatas aku mencuri pandang pola pertumbuhan bulu keteknya yang ternyata tumbuh ringan dan memanjang, di sepanjang dataran ketiaknya.Indah, jantan, dan dewasa sekali tampaknya!

Kami berenang seperti orang sedang berlatih mau ikut pertandingan. Sekali-sekali kami istirahat lalu melanjutkan lagi latihan sampai satu jam.

Selesai berenang kami kembali ke kamar untuk ber-pakaian dan siangnya kami makan siang [lunch] bareng di salah satu restoran hotel itu. Untuk acara sore kami janjian akan jalan-jalan ke Kuta atau Sanur atau Denpasar - sekitar jam 17:00.

MENGGAGAHI LOBANG PANTAT VITO

Sekembalinya di kamar aku gelisah sekali. Agaknya aku kasmaran pada Vito.Nafsuku naik ke otak. Aku memang sudah dua minggu tidak ngeloco, ngentot, mimpi basah atau pun mengeluarkan pejuh dengan cara lain - kalau ada! Aku baru saja setengah jam selesai makan siang - tetapi... berahiku terasa menggelegak.Kalau saja ada Alfredo di situ, pasti sudah aku hajar boolnya dengan kontolku. Akhir-nya aku tak tahan lagi.Aku keluar kamar dan lalu mengetuk kamar Vito. Vito membuka sedikit pintu kamarnya dan menyilahkan aku masuk. Rupanya Vito sedang telanjang bulat, mungkin dia sedang ganti baju. Vito tidak risih menerima aku di kamarnya telanjang bulat.Aku sudah tak bisa menahan diriku lagi.. Vito yang sedang telanjang bulat itu aku peluk, aku dorong ke tempat tidur dan aku ciumi bibirnya dengan bernafsu.Sambil menciumi bibirnya aku melepaskan celana dan kancutku.Kontolku yang sudah amat tegang itu lalu aku embatkan ke bool Vito.Vito mencoba melawan dan menghindar tapi aku terlalu kuat. Vito aku piting, dan dengan paksa kontolku aku sodokkan ke silitnya lalu kontolku aku pompakan keluar masuk ke silit Vito.Vito jadi menggelinjang. Mungkin kesakitan, tapi aku tidak peduli.Aku terus mengentoti boolnya sampai akhir-nya pejuhku muncrat:CROOOOOOOOOOOT!CROOOOOOOOOOT!

Mungkin seperti itulah yang dilakukan oleh Dato' Seri Dr.Anwar Ibrahim,kalau benar tuduhan kepada Anwar Ibrahim [Mantan Wakil PM Malaysia dan yang saat cerita ini ditulis menjadi Ketua {?} Partai Keadilan di Malaysia] bahwa dia pernah menyodomi supirnya Suryadhrma dan salah seorang asistennya {laki-laki) yang berumur 20 tahunan.

EPILOG

Aku tidak usah ceritakan apa yang terjadi. Yang jelas Vito marah besar. Aku diusir dari kamarnya. Untung saja Vito tidak teriak-teriak memanggil Satpam. Mungkin dia juga malu diperkosa sesama jenis tidak bisa melawan.

Aku juga tidak yakin bahwa Vito akan mengadukan kepada Polisi atau pihak berwajib mana pun juga tentang tindakanku itu.Kalu diadukan Vito, paling -paling tindakanku pada Vito tergolong pada delik "Perbuatan yang tidak menyenangkan"[walaupun rasa -nya nikmat juga!!!].

Aku cepat-cepat mengenakan celana dan kancutku lalu kabur ke kamarku, mengemasi barang-barangku dan check out seketika.Aku pesan taxi hotel untuk pergi ke kantor cabang kami di Denpasar menemui Alfredo.

Yah! Alfredo,karyawan dari kantor cabang kami di Denpasar yang aku perlakukan seperti "budak sex". Alfredo pemuda tampan dan penurut.Bahkan Alfredo saat itu barusan disunat.Luka sunatnya baru saja sembuh dan kering beberapa hari sebelum itu. Aku memang berniat untuk "mengulum" kontol Alfredo yang barusan sunat itu untuk pertama kalinya.Aku memang tidak mau mengulum kontol Alfredo sebelum dia sunat. Alfredo berdarah campuran Timor dan Portugis - seperti umumnya lelaki dari daerah itu kulup Alfredo juga panjang - karena itu aku yang membujuk dan setengah memaksanya agar dia mau sunat - supaya aku bisa menjilati dan menyedot kontolnya yang besar itu dengan nikmat dan bersih tanpa aku harus mencium bau bacin smegmanya [ta'i kulat] dan mencecapi rasa pahit ta'i kulatnya!

Aku menyesal bahwa aku menuruti nafsuku untuk mencari peluang mencabuli Vito.Aku menyesal juga tidak patuh pada jadwal yang aku buat sendiri.

Rencananya hari itu aku mampir di Denpasar untuk mencabuli Alfredo lalu esok harinya aku pulang ke Dili - tempat kerjaku sebagai Country Director sebuah organisasi internasional di bawah bendera PBB [Perserikatan Bangsa-Bangsa].Yah! Yang sudah berlalu biarlah berlalu!Bagaimanapun sayang juga, karena sebetulnya aku masih ingin menikmati tubuh Vito, pemuda yang barusan menginjak usia delapan-belas tahun itu! Ternyata kontol Vito besar dan disunat ketat[high and tight].Pasti nikmat kalau dijilat! Agh!

2 komentar: